Kamis, 19 April 2012

ALTERNATOR


listrik automotif

alternator
Diagnosis Kerusakan Pada Alternator
Alternator berfungsi untuk menghasilkan energi listrik dari putaran mesin. Energi listrik yang dihasilkan digunakan untuk mengisi energi dalam aki dan digunakan untuk peralatan listrik lainnya. Kerusakan pada alternator biasanya tidak terlihat langsung, tetapi dampaknya lebih terlihat pada kegagalan aki dalam menyediakan energi listrik bagi peralatan listrik kendaraan. Berikut ini beberapa tanda kerusakan pada alternator:
  • Aki tidak terisi tetapi mesin dapat distarter. Hal ini karena:
  1. Belt alternator kendor atau sudah aus.
  2. Kabel alternator terkelupas atau putus.
  3. Alternator rusak
  4. Regulator tegangan rusak
  5. Baterai rusak
  • Alternator berisik. Hal ini karena:
  1. Belt alternator kendor atau sudah aus.
  2. Flens puli alternator bengkok
  3. Alternator rusak
  4. Dudukan alternator kendor
  • Lampu atau sekering seringkali putus. Hal ini karena:
  1. Sistem perkabelan ada yang rusak.
  2. Alternator rusak
  3. Aki rusak.
Ada 2 tipe alternator pada motor atau mobil :
1. Alternator dengan medan magnet tetap. Didalam stator alternator terdapat magnet dengan medan magnet yang tetap. Listrik yang dihasilkan sangat tergantung dengan rpm mesin, rpm naik – tegangan akan naik. Alternator jenis ini adalah alternator yang tidak efisien, tapi murah biaya produksinya dan cukup kuat. Ini biasanya terdapat pada motor, termasuk Tiger.
2. Alternator dengan medan magnet variable. Didalam stator alternator terdapat magnet dengan medan magnet yang tidak tetap. Listrik yang dihasilkan tergantung dari besar-kecilnya medan magnet, dimana medan magnet ini diatur oleh voltage regulator/cut out/ketot (yang terakhir bahasa montir). Alternator jenis ini adalah alternator yang sangat efisien tetapi mahal biaya produksinya, dikarenakan hanya akan memproduksi listrik sesuai kebutuhan. Biasanya terdapat di mobil.
Kedua jenis alternator diatas sama-sama membutuhkan rectifier dan voltage regulator.
Pada alternator tipe 1, rectifier dan voltage regulator dibuat 1 kesatuan alat. Sedangkan untuk alternator tipe 2, rectifier terdapat di alternatornya dan voltage regulator terpisah (umumnya untuk mobil 1980an), tetapi ada juga yang semuanya menjadi 1 dengan alternator (umunya mobil baru)
Fungsi rectifier disini adalah untuk merubah listrik AC ke DC.
Fungsi voltage regulator pada alternator tipe 1 (magnet tetap) untuk mengatur voltage sesuai dengan yang dibutuhkan Bila daya listrik yang dikeluarkan sudah melebihi yang dibutuhkan, sisanya akan dibuang dengan cara men short ke ground di rectifier/ kiprok. Karena itu rectifier/kiprok akan terasa panas karena terjadi proses pembuangan ini. Dan juga ini dapat menerangkan kenapa kiprok tiger sering/cepat rusak.
Fungsi voltage regulator pada alternator tipe 2 (magnet tidak tetap) untuk mengatur besar-kecilnya medan magnet di alternator, sesuai dengan kebutuhan listrik.
Tips cara mengetes rectifier dan alternator. Sebenarnya pernah dibahas oleh bro Edwin Tutkey di thread berjudul "Kiprok rusak indikasinya gimana?", saya hanya menambahkan cara lain.
Cara mengetes rectifier/kiprok:
- Set multitester/AVO meter di Volt DC 50 V.
- Tempelkan kabel merah (+) ke kutub Positif dan kabel hitam (-) kekutub Negatif.
- Hidupkan mesin, biarkan pada rpm idle, lihat pembacaan di meter, harusnya menunjukkan 12 Volt
- Naikkan rpm sampe >5000rpm, lihat pembacaan harusnya bergerak naik berkisar 13,5 Volt s/d 14,5 Volt (CMIIW). Bila menunjukkan nilai diluar kisaran itu berarti kiprok/rectifier rusak.
Cara mengetes alternator/spul :
- Copot kabel yang menghubungkan alternator ke kiprok/rectifier.
- Set multitester/AVO meter di Volt AC 50 V
- Hubungkan ke dua kabel dari multitester/AVO meter ke 2 kabel kuning dan dari alternator. Hati-hati sekali jangan sampai short/tersambung.
- Nyalakan mesin, biarkan pada rpm idle.
- Lihat pembacaan pada AVO meter, bila menunjuk ke kiri, berarti kabel terbalik. Bila menunjuk ke kanan dan pada >12Volt, berarti masih baik.
Yang harus diperhatikan pada system pengisian adalah :
- Semua socket dan kutub aki harus dalam keadaan bersih, tidak ada oksidasi maupun karat.
- Pastikan tidak ada kabel yang menyentuh bagian heatsink rectifier.
- Selalu memeriksa ketingian air aki. Karena ini bisa sebagai indikasi kiprok rusak. Bila air aki cepat habis, berarti arus listrik pengisian terlalu besar, berarti juga kiprok mendekati rusak.
Dari semua uraian diatas, dapat menjelaskan kenapa motor-motor besar lampu headlampnya selalu menyala begitu kunci di on kan. Tujuannya, selain faktor safety, juga utamanya menghemat kerja sistem pengisian listrik. Dengan dinyalakannya headlamp, listrik yang diproduksi oleh alternator (tipe 1) akan dipakai hampir seluruhnya, dengan begitu akan meringankan beban voltage regulator, karena tidak perlu membuang kelebihan produksi listrik yang besar sehingga mengurangi panas yang ditimbulkan proses pembuangan, yang artinya memperpanjang usia rectifier.
Bagi saya pribadi, lebih baik risih ditegor orang dijalan karena headlamp menyala daripada harus beli rectifier baru seharga 900rb.
Sistem Pengisian Listrik Mobil
SEMAKIN canggih teknologi otomotif, ketergantungannya pada baterai pun semakin besar. Ini karena mobil modern banyak menggunakan komponen elektronik. Contohya, ketika mesin mobil masih mengandalkan teknologi karburator, arus listrik yang diperlukan kecil. Namun, ketika teknologi mesin beralih ke sistem injeksi yang mengandalkan peranti ECU (Electronic Control Unit) untuk membaca data, kebutuhan listrik semakin besar. Tanpa listrik semua sensor yang memasok informasi ke ECU tidak akan bekerja. Belum lagi listrik itu dimanfaatkan untuk audio dan perangkat elektronik penunjang lainnya. Itu sebabnya baterai memiliki peranan yang vital bagi mobil modern.
Meski teknologi kian canggih, namun baterai tetap memiliki kelemahan mendasar, yaitu bila dipakai terus-menerus kapasitas listriknya akan berkurang dan habis. Agar tidak merepotkan pemilik kendaraan untuk mengisi ulang baterai mobil, para ahli teknik otomotif merancang sistem pengisian yang bekerja mandiri. Teknologinya bekerja otomatis begitu mesin kendaraan hidup.
Sistem pengisian ini akan memproduksi listrik untuk "disimpan" dalam baterai yang akan dipergunakan untuk keperluan komponen elektronik lainnya. Rangkaian sistem pengisian terdiri dari komponen alternator, regulator, ignition switchdan baterai.
Fungsi alternator adalah untuk mengubah energi mekanis dari mesin menjadi tenaga listrik. Komponen utamaalternator adalah rotor, stator, dan diode.
Komponen lainnya adalah rotor/ medan magnet penghasil listrik, juga bearing-bearing yang membuat rotor dapat berputar. Selain itu, ada kipas yang berfungsi mendinginkan bagian dalam alternator, dan puli.
Komponen puli berfungsi untuk tempat tali kipas penggerak rotor. Rotor merupakan bagian yang berputar di dalam alternator. Pada rotor terdapat kumparan (rotor coil) yang berfungsi untuk membangkitkan kemagnetan. Kuku-kuku yang terdapat pada rotor bertugas sebagai kutub-kutub magnet. Untuk menyalurkan listrik ke kumparan rotor dipasang dua slip ring. Konstruksi rotor ditumpu oleh dua buah bearing.
Stator yang bertugas menghasilkan arus bolak-balik memiliki kumparan di bagian dalamnya. Stator memiliki tiga kumparan yang pada salah satu ujungnya dijadikan satu. Umumnya konstruksi yang dipakai adalah model Y atau bintang tiga phase. Bagian tengah yang menjadi satu adalah pusat gulungan yang disebut titik netral atau terminal N. Pada bagian ujungnya stator arus listrik bolak-balik berasal.
Ketiga ujung stator dihubungkan dengan diode. Fungsi diode adalah menyearahkan arus bolak-balik (AC) yang dihasilkan stator coil menjadi arus searah (DC). Selain itu, diode juga berfungsi untuk mencegah arus balik dari baterai ke alternator.
Regulator
Tegangan listrik dari alternator tidak selalu bersifat konstan. Karena arus listrik alternator tergantung daripada kecepatan putaran rotor, maka semakin cepat putarannya makin besar pula daya arusnya. Begitu pula sebaliknya.
Sementara fungsi regulator adalah mengatur besar arus listrik dari rotor coil sehingga tegangan yang dihasilkan alternator tetap konstan.
Walaupun putarannya berubah-ubah, tetapi regulator mampu menstabilkan arus listrik. Regulator juga berfungsi untuk mematikan lampu pengisian. Lampu tanda pengisian akan otomatis mati apabila alternator sudah menghasilkan arus listrik.
Rangkaian sistem pengisian listrik pada kendaraan bekerja saat kunci kontak diputar ke posisi on. Arus dari baterai akan mengalir ke rotor yang memerintahkan rotor coil untuk bekerja. Pada saat yang sama arus baterai juga mengalir ke lampu pengisian (CHG) dan akibatnya lampu menjadi menyala (On). Sesudah mesin hidup dan rotor berputar, tegangan listrik dibangkitkan dalam stator coil. Selanjutnya, tegangan neutral dipergunakan untuk mengaktifkanvoltage relay. Karena itu lampu charge menjadi mati.
Lampu pengisian akan menyala, bila alternator tidak mengirimkan jumlah listrik yang normal. Ini terjadi kalau tegangan dari terminal N alternator kurang dari jumlah yang diperlukan.
Lampu indikator accu yang menyala terus saat mesin hidup adalah tanda terjadi masalah pada sistem pengisian. Penyebabnya bisa karena undercharge atau overcharge.
Pada prinsipnya pasokan dan kebutuhan listrik harus setara. Energi listrik yang dihasilkan alternator ini harus sesuai dengan beban listrik yang dipakai. Mobil umumnya mempunyai tegangan standar alternator 13 volt hingga 15,2 volt.
Pasokan listrik dari alternator tidak boleh di bawah atau di atas angka tersebut. Jika pasokan listrik di bawah angka standar, maka disebut undercharge. Sebaliknya, jika lebih dari 15,2 volt disebut overcharge. Bila dibiarkanundercharge , bisa berpotensi aki kekurangan listrik, sehingga mesin tidak dapat di starter. Pasalnya untuk menstarter mesin dibutuhkan listrik yang besar. Sebaliknya, kondisi overcharge menyebabkan pasokan listrik dari alternator berlebih. Ini akan membuat dalam aki terjadi reaksi kimia yang berlebihan sehingga aki menjadi panas dan bertekanan tinggi. Oleh karena itu kedua kondisi ini harus dihindari. (ovi)***

1 komentar: